Beranda Headline Teler, Tiduri Mawar di Samping Kuburan

Teler, Tiduri Mawar di Samping Kuburan

BERBAGI
ILUSTRASI

PRAYA — Kasus seksual kembali terjadi di wilayah hokum Polres Lombok Tengah (Loteng). Kali ini, pelaku dan korban merupakan pelajar. Pelaku oknum pelajar SMK sedangkan korban masih duduk di bangku SMP.
Korban sebut saja Mawar (nama samaran, Red), 13 tahun warga Kecamatan Praya. Sementara pelaku, inisial AH, 18 tahun warga Kecamatan Pujut. Namun beruntung polisi cepat menangkap AH pada Senin (16/7) lalu.
Kasat Reskrim Polres Loteng, AKP Rafles P Girsang mengatakan, awalnya polisi menerima laporan dari orang tua Mawar, setelah itu Tim Satgas pemberantasan kejahatan jalan terjun dan mengamankan pelaku saat keluar main dari sekolahnya. Kasus ini dilaporkan orang tua korban pada tanggal 14 Juni 2018.
Refles menegaskan, dari hasil pemeriksaan Mawar, korban pun menceritakan kejadian yang menimpanya kepada penyidik unit PPA. Dimana, pada Rabu tanggal 13 Juni sekitar pukul 23.30 Wita, korban ditelpon pelaku dan ketemuan di jembatan cinta wilayah Prapen.

Saat bertemu, korban diajak naik sepeda motor menuju rumah temannya di Kelurahan Gerunung, Kecamatan Praya. Setibanya di rumah temannya, korban diberikan minuman keras (miras). Tak lama mengkonsumsi miras, kondisi Mawar pun sudah tidak normal alias teler. Selanjutnya, Mawar diajak pelaku keliling, melihat kondisi Mawar yang sudah teler, pelaku membawa ke samping pemakaman Tiwu Lekong, Kelurahan Prapen. Di sana baru Mawar tiduri pelaku asal Pujut tersebut.
“Kami masih melakukan pemeriksaan sampai sekarang. Tapi keterangan korban dia nodai oleh pelaku saat dirinya tidak sadarkan diri,” beber Refles, Selasa lalu.
Refles mengaku, untuk mengungkap kasus ini, pihaknya akan meminta keterangan sejumlah saksi, baik korban bahkan pelaku, pihaknya juga akan melakukan visum kepada korban. Atas perbuatannya, pelaku terancam pasal 76 D Jo pasal 81 Ayat (2) Undang-Undang nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak atau pasal 76 E Jo pasal 82 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak, dengan ancaman pidana minimal lima tahun, maksimal 15 tahun penjara. (jay/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here