Beranda Mataram I-Shop Minimalisir Klaim Produk

I-Shop Minimalisir Klaim Produk

BERBAGI
SUSAN/RADAR MANDALIKA Hj Putu Selly Andayani

MATARAM – Banyaknya produk Usaha Kecil Menengah (UKM) dari NTB yang diklaim oleh daerah lain, membuat Dinas Perdagangan NTB mengambil langkah sigap. Yakni dengan membentuk I-Shop untuk meminimalisir terjadinya klaim produk tersebut.
Kepala Dinas Perdagangan NTB, Hj Putu Selly Andayani mengatakan, sampai saat ini dari 100 UKM yang dilatih Dinas Perdagangan, 50 UKM dipastikan sudah memiliki kualitas produk ekspor. “I-Shop NTB ini dari online, dilakukan Dinas Perdagangan NTB dari program inovasi. Dari 100 UKM, masuk 50 UKM dengan 500 produk ang sudah terstandarisasi,” ujarnya kepada Radar Mandalika, kemarin.
Untuk membina handicraft, diakuinya gampang-gampang sulit. Pengawasannya juga untuk sampai ke tingkat konsumen. Selly pun mengaku miris karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi di NTB, ternyata didominasi tambang. “Tambang kontrak karya itu bukan kerja ekonomi kerakyatan,” tegasnya.
Menurutnya, kenapa gerabah bisa ditinggalkan karena diklaim oleh daerah lain. Padahal, daerah itu tidak bisa membuat. “Yang membuat perajin di NTB. Mereka hanya finishing saja. Setelah finishing, mereka mengklaim bahwa ini produk mereka,” tegasnya.
“Kalau memang itu produk NTB, ya harus made in Lombok atau made in Sumbawa. Kita itu memang lemah di finishing,” imbuh Selly.
Ia mencontohkan, NTB memiliki kerajinan batok kelapa yaitu cococraft. Setelah dikerjakan sampai finishing dan masuk di I-Shop, produk ini tidak bisa diklaim oleh daerah lain. Begitu juga dengan kuliner. “UKM kita kan kadang-kadang pikirannya jangka pendek saja, tidak memikirkan jangka panjang. Komitmen itu penting,” ujar wanita berjilbab ini.
Sementara Ketua BPD Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI) NTB, Hj Baiq Diah Ratu Ganefi meminta kepada para pelaku handicraft di NTB juga harus memperhatikan produknya masing-masing. Apabila dikirim keluar, hendaknya dicap terlebih dahulu dengan tulisan “Made in Lombok” supaya dikenal oleh wisatawan. “Mau garabah maupun cukli atau kerajinan lain harus dicap di sini (NTB). Jadi tetap tertera made in Lombok atau made in Bima dan sebagainya. Kalaupun tidak terdata, minimal ada promosi Lombok di handicraft itu,” ucapnya. (cr-can/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here