Beranda Headline 112 Desa Diajukan Jadi Desa Wisata

112 Desa Diajukan Jadi Desa Wisata

BERBAGI
JAYADI/RADAR MANDALIKA CINDRA MATA: Ketua Komisi II DPRD Loteng, Samsul Qomar saat memberikan cindra mata kepada ketua rombongan DPRD Kabupaten Pemalang Jawa Tengah (Jateng), kemarin.

PRAYA —DPRD Lombok Tengah (Loteng) menerima kunjungan kerja DPRD Kabupaten Pemalang Jawa Tengah (Jateng), kemarin.
Kedatangan sejumlah wakil rakyat dari komisi II dan III Kabupaten Pemalang tersebut semata-mata untuk belajar bagaimana melakukan pembangunan ekonomi dan mengatur keuangan di daerah, terlebih pada sektor Pariwisata. Dimana saat ini setidaknya ada 122 desa wisata yang ada wilayah Loteng yang sudah diajukan dan diterima oleh Kementerian Pariwisata RI.
Ketua Komisi II DPRD Loteng yang menerima rombongan di ruangan sidang paripurna DPRD, Samsul Qomar menyatakan, kedatangan rombongan DPRD Pemalang dalam rangka kujungan kerja guna mengetahui cara mengatur keungan yang di daerah maupun perkembangan pariwisata. Pasalnya, Pemkab sendiri sudah enam kali berturut-turut mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK RI.
“Kami terus menggenjot sektor pariwisata ini, sehingga hampir di setiap desa kami jadikan sebagai desa wisata dengan memafatkan berbagai potensi yang ada di desa itu sendiri,” ujar Samsul Qomar yang ditemuai di ruang kerjanya, kemarin.
Politisi Partai Demokrat tersebut mengaku, selama empat tahun terakhir, Pemkab dan DPRD Loteng terus menjadikan pariwisata sebagai sektor prioritas. Untuk mengembangkannya, setiap SKPM diharuskan untuk menjalin sinergitas untuk memajukan berbagai potensi yang ada.
“Bahkan kami melibatkan semua unsur masyarakat setempat,” katanya.
Untuk desa wisata yang saat ini sudah mulai berkembang sekitar tujuh desa. Adapun desa berkembang pesat itu diantaranya Desa Bilebante, Stanggor, Mas-Mas, Durian, Sepakek dan Desa Bunjeruk. Dimana desa ini setiap saat selalu ramai dikunjungi oleh wisatawan setiap harinya.
“Berbagai potensi yang ada di desa oleh masyarakat sudah bisa mengelolanya dengan baik, karena tanpa kesadaran masyarakat juga maka akan sangat mustahil perkembangan wisata bisa seperti saat ini,” ungkapnya.
Selain itu, berbagai potensi desa wisata yang ada memang sengaja di gaungkan, karena hal itu juga untuk menunjang keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika Resort.
“KEK Mandalika juga tidak akan bisa berdiri sendiri, makanya dibutuhkan kawasan penyangga. Sehingga Kemenpar memberikan juga dukungan bagi setiap desa yang memiliki potensi wisata,” tambahnya.
Sementara untuk alokasi dana untuk pengembangan wisata desa, pihaknya dari DPRD selalu mengintervensi pihak terkait agar memberikan anggaran lebih banyak. Hal itu karena di setiap desa yang ada banyak potensi wisata yang memiliki nilai jual tidak hanya pada sektor keindahan alam akan tetapi kearifan budaya lokal.
“Sekarang juga situs budaya sudah banyak yang didatangi oleh para wisatawan dan ada ratusan makam bersejarah yang menjadi destinasi andalan masyarakat. Sehingga hal itu perlu dikembangkan agar nantinya bisa menyumbangkan PAD lebih banyak lagi,” terangnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Loteng, HL Moh Putria juga mengakui perkembangan pariwisata bertambah pesat. Selain dengan adanya KEK Mandalika, namun juga ditunjang desa wisata. (jay)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here