Beranda Mataram Gini Ratio Maret 2018 Menurun

Gini Ratio Maret 2018 Menurun

BERBAGI
SUSAN/RADAR MANDALIKA Endang Tri Wahyuningsih

MATARAM – Badan Pusat Statistik (BPS) NTB merilis pada Maret 2018, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk Nusa Tenggara Barat (NTB) yang diukur oleh gini ratio tercatat sebesar 0,372. Kepala BPS NTB, Endang Tri Wahyuningsih menyampaikan, angka ini mengalami penurunan sebesar 0,006 poin jika dibandingkan dengan gini ratio September 2017 yang sebesar 0,378. Sedangkan jika dibandingkan dengan gini ratio Maret 2017 yang sebesar 0,371, gini ratio Maret 2018 naik sebesar 0,001 poin.
“Salah satu ukuran ketimpangan yang sering digunakan adalah gini ratio. Nilai gini ratio berkisar antara 0-1. Semakin tinggi nilai gini ratio menunjukkan ketimpangan yang semakin tinggi,” ujarnya dalam rilis di Kantor BPS NTB, Senin (16/7).
Ia menuturkan, nilai gini ratio berfluktuasi. Angka tertinggi terjadi pada September 2014 yaitu sebesar 0,391. Pada Maret 2015, gini ratio mulai turun menjadi 0,368 dan terus menurun hingga mencapai angka 0,365 pada September 2016. Gini ratio pada Maret 2017 naik menjadi 0,371 dan kembali naik pada September 2017 sebesar 0,378. Pada Maret 2018 ini, gini ratio mengalami penurunan menjadi 0,372.
“Gini ratio NTB pada tahun 2010 tercatat sebesar 0,396 dan menurun menjadi 0,363 pada Maret 2011. Gini ratio naik pada September 2011 menjadi 0,366. Pada periode Maret 2012 (0,348) hingga September 2014,” tuturnya.
Berdasarkan daerah tempat tinggal, gini ratio di daerah perkotaan pada Maret 2018 tercatat sebesar 0,398. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0,014 poin dibanding gini ratio September 2017 maupun gini ratio Maret 2017 yang stagnan di angka 0,413.
Untuk daerah pedesaan, gini ratio Maret 2018 tercatat sebesar 0,333. Angka ini meningkat sebesar 0,010 poin dibanding gini ratio September 2017 yang sebesar 0,323. Meningkat 0,019 poin dibanding gini ratio Maret 2017 yang sebesar 0,314.
Selain gini ratio, ukuran ketimpangan lain yang sering digunakan adalah persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah atau yang dikenal dengan ukuran ketimpangan Bank Dunia. Kalau berdasarkan ukuran ini, tingkat ketimpangan dibagi menjadi tiga katagori. Yaitu tingkat ketimpangan tinggi jika persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah angkanya di bawah 12 persen, ketimpangan sedang jika angkanya berkisar antara 12-17 persen, serta ketimpangan rendah jika angkanya berada di atas 17 persen.
Sedangkan untuk peresentase Maret 2018, persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah adalah 17,99 persen. Artinya, NTB berada pada katagori ketimpangan rendah.
Persentase pengeluaran pada kelompok 40 persen terbawah pada Maret 2018 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan kondisi September 2017 yang sebesar 17,85 persen. Mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kondisi Maret 2017 yang sebesar 18,00 persen.
Sejalan dengan informasi yang diperoleh dari gini ratio, ukuran ketimpangan Bank Dunia pun mencatat hal yang sama. Yakni ketimpangan di perkotaan lebih parah dibandingkan di pedesaan. Persentase pengeluaran pada kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perkotaan pada Maret 2018 adalah sebesar 16,60 persen atau tergolong ketimpangan sedang.
Sementara itu, persentase pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah di daerah perdesaan pada Maret 2018 adalah sebesar 19,61 persen. Berarti berada pada katagori ketimpangan rendah.
“Distribusi pengeluaran kelompok penduduk 40 persen terbawah adalah sebesar 17,99 persen. Itu berarti, pengeluaran penduduk masih berada pada katagori tingkat ketimpangan rendah,” katanya.
Jika dirinci menurut wilayah, di daerah perkotaan angkanya tercatat sebesar 16,60 persen yang artinya berada pada katagori ketimpangan sedang. Sementara untuk daerah pedesaan, angkanya tercatat sebesar 19,61 persen, yang berarti masuk dalam kategori ketimpangan rendah. (cr-can/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here