Beranda Headline Zohri Mendunia, Dispora-KONI Membara

Zohri Mendunia, Dispora-KONI Membara

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA BERI KETERANGAN : Kadispora NTB, Husnanindiyati Nurdin, Ketua KONI NTB, Andy Hadiyanto dan ketua PASI NTB saat jumpa pers di Mataram, kemarin.

MATARAM – Prestasi Lalu Mohammad Zohri masih menjadi perbincangan hangat. Bahkan, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora), Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) dan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) NTB ikut bicara soal Zohri.

Kadispora NTB, Husnanindiyati Nurdin mengaku dengan prestasi Zohri Dispora tengah merancang buku dari PPLP menuju dunia. Selama ini, semua atletik difasilitasi penuh mulai dari bebas SPP selama sekolah, diberikan baju lima stel, disiapkan sepatu keseharian dan sejumlah fasilitas hingga biaya makan ditanggung sebesar 90 ribu/hari. Untuk pesangon mereka diberikan setiap bulan. begitupun soal kesehatan mereka ditanggung BPJS kelas 1 oleh gubenur langsung. Sebagai pembimbing, Dispora juga sangat memperhatikan selain makanan juga vitaminnya. Atlet diwajibkan meminum obat cacing. Di dalam Asrama PPLP juga dihadirkan guru ngaji yang sengaja dibayar untuk mengajarkan mereka.

“Jadi salah kalau atletik tidak diurus, itu tidak benar,” tegas Husnanindiyati dalam jumpa pers, kemarin.

“Selama di Jakarta saya terus telpon Zohri, untuk mengkonfirmasi kesehatan makanan dan lainnya,” tambahnya.

Ia pun menyingung media yang terlalu menyorot rumah Zohri yang jelek yang seakan Zohri tidak diurus oleh pemerintah. Dispora, kata dia bukan mengurus rumah Atletik tetapi yang diurus tempat tinggal, saranaprasana latihan di lokasi berlatih.

Di PPLP sendiri sebanyak 52 orang yang sedang dibimbing mereka atletik Voly indoor maupun Voli Pasir, Ada juga Takro, pencak silat dan Atletik lari.
Zohri kata dia, satu dari 52 Atletik dibidang lari yang dibimbing PPLP Dispora.

Ia menceritakan, Zohri masuk PPLP pada tahun 2016. Orang pertama yang menemukan bakat larinya guru olahraga Kelas 2 SMPN 1 Pemenang, Rosida.

“Aslinya Zohri pemain sepakbola,” ceritanya

Di PPLP NTB pelatihnya, Komang Budagama sampai sekarang kemudian Dipelatnas Ibu Enny dan Bapak Erwin yang melatih intesn.
Sejak masuk, Zohri dikirim PB PASI Bob Hasan ke Amerika. Di sana diperbaiki beberapa tekniknya. Sehingga semakin baik. Bahkan Dia mengaku ketemu dengan pelatihnya di Jakarta sebanyak dua kali.

“Dari PPLP NTB menuju dunia,” ujarnya penuh bangga.

Meski baru selesai meraih juara dunia, namun mereka mengaku ada PR besar yaitu Zohri akan mengikuti Asean Games. Bedanya kemarin Zohri mengkuti IAFF U 20 kategori singgle even, tetapi di Asean Game tidak akan diikuti dari usia 20 malah akan diikuti oleh pelari yang usianya lebih dari 20.
“Saya takutnya kalau tidak menang, dibully di media kenapa kemarin juara dunia sekerang kalah di Asean Game. Jadi kami fokus antarkan Zohri ke Asean Games itu,” terangnya.

Husnanindiyati juga membatah bahwa tidak ada koordinasi dengan KONI provinsi. Yang menjadi catatan soal anggaran pembinaan kata dia sesuai dengan aturan presiden dana pembinaan Atlit tidak lagi diserahkan ke KONI melaonkan langsung di Cabor. Bersama KONI dan PASI, Dispora selalu bergandengan tangan untuk kebutuhan dan kemajian atlit.
Untuk mencetak sosok seperti Zohri Ia menyampaikan kendalanya dimana masing masing cabor belum memilik data atlet yang dilatih. Menurutnya pendataan penting dilakukan agar pemerintah mengetahui mana atlit daerah yang pindah ke provinsi lain.

Kendala berikutnya soal anggaran dimana Dispora minim sekali mendapatkan anggaran besar. padahal kondisi PPLP, kata dia jauh dari harapan berlatih para atlit.
PPLP adalah wadah menghasilakn atlit berprestasi. Sehingga penting disokong dengan anggaran yang besar. Sesui hitungannya, Dispora pada APBD perubahan membutuhkan dana 2 Miliar. 1 Miliar untuk kebututah penambahan atletik dan 1 miliar lagi untuk sarana prasarana atletik. Banyak fasilitas yang perlu diadakan dan juga bangunan PPLP sudah terlihat roboh.

Dari APBD murni tahun ini, Dispora mengaku menerima anggaran hanya 600 juta. Sementara dari APBN yaitu Menpora telah menerima 2 Miliar.

“Dari APBN kami terima 2 M untuk makan try out, uang saku, honor pelatih, untuk perlengakapan dan baju dua stel dan yang lain,” terang dia.

“Kalau dari APBD 2018, tidak sampai satu miliar atau sekitar 600 an juta di APBD murni yang kami terima,” paparnya.

Sementara itu, ketua KONI NTB, Andy Hadiyanto memandang pemikiran keliru bilaman media hanya menyorot rumah Zohri saja. Seharunya, yang perlu lebih sisorot kata Andi bagaimana dan apa saja kendala supaya bisa mencetak Zohri lainnya semisal kondisi PPLP, failitas olahraga atau sebagainya.

Olahraga di NTB, pada 2012 prestasinya di peringkat 27 hingga 29 dibabdingkan dengan provinsi lain. Bahkan pada Pekan Olahrga Nasional ( PON) saat itu atlit hanya mendapatkan medali kisaran satu atau dua. Tetapi diatas tahun ini gubernur NTB bersama ketua KONI, HMNS Kasdiono dapat meletakkan atletik dengan berbagai prestasi. Bahkan bisa diperingkat belasan.

“ini semua sebab atensi pemerintah.
adanya proses pembinaan olhhraga menajdi hebat perlu perhatian pemerintah dan pemerintah telah berbuat untuk itu,” ujar Andy.

Jika dilihat dari tugasnya KONI membina atlet prestasi, kalau pelajar dibina oleh PPLP. Artinya ada pembagian tugas dan tanggungjawab. Sejak Zohri jadi juara ia mengaku tetap memantau. Saat itu Zohri terlihat berpotensi hingga dimasukkan ke Platda.
“lima bulan yang lalu baru dipanggil oleh pusat mengikuti Platnas,” bebernya.

“Jadi tidak benar kalau tidak ada perhatian dari pemerintah. Apresiasi tetap ada tapi harus adil. ada puluhan atlit di PPLP dan KONI. Kita tidak boleh pilih kasih dalam memberikan reward,” papar Andy. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here