Beranda Headline Saksi Sebut Mantan Karo Perekonomian

Saksi Sebut Mantan Karo Perekonomian

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA KESAKSIAN: Dirut PD BPR Loteng, Ahmad Afifi saat menjadi memberikan kesaksian, kemarin.

MATARAM – Sidang kasus dugaan korupsi merger PD Bank Perkreditan Daerah (BPR) menjadi PT BPR NTB masih berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Matatam. Dimana, Jaksa Penuntut Umum (JPU) kembali menghadirkan emapt saksi yakni, Direktur utama PD BPR Loteng, Ahmad Afifi, Dirut PD BPR Loteng, Ria Prayuniarti, kepala bagian IT PD BPR Lobar, Sugeng Wijanarko dan kepala divisi operasional PD BPR Lotim, Hafit Wahudi.
Dalam sidang kali ini, nyaris semua saksi menyebutkan nama mantan Kepala Biro Administrasi Perekonomian Setda NTB, Manggukang Raba. Namun, dari empat saksi yang belum dimintai keterangan hanya Sugeng Wijanarko dan Hafif Wahyudi. Sesuai jadwal, keduanya ajan diperiksa pada sidang Jumat besok.

Tim JPU mencecar para saksi dengan sejumlah pertanyaan terkait keterlibatan saksi dalam pengumpulan uang 100 juta, dan ada tambahan 200 juta lagi yang dibebankan kepada PD BPR daerah untuk kebutuhan konsolidasi.

Dalam kesaksian Dirut PD BPR Loteng, Ahmad Afifi hanya fokus menjelaskan seputar struktur SK gubernur yaitu sebagai tim SDM dan umum. Namun, dia tidak banyak mengetahui aliran dana kemana saja bahkan saat rapat evaluasi di kantor PD BPR Mataram, tidak begitu mempersoalkan kemana dan apa saja alokasi dari iuran 100 juta yang dimintai sebagai iuran masing masing BPR itu. Sepengetahuaan dia, soal SPJ pun tidak ada. Tidak hanya itu, dalam kesepmatan rapat yang berlangsung 27 September tahun 2017 itu, pihaknya juga dimintai tambahan iuran sebesar 200 juta, namun ia menolaknya.
Afifi juga membenarkan bahwa uang 100 juta itu ditransfer ke rekening bendahara tim sebesar 20 juta dan sisanya dikirim ke rekening pribadi terdakawa Mutawalli. Itupun tanpa disposisi. Dia mengaku, dari perbincangannya melalui ponsel ditekan terus oleh bawahannya Manggaukang, Lalu Syamsudin agar segera menyetor 80 juta tersebut.
“Yang 200 juta kami tidak berikan sampai sekarang,” jawabnya.

Menurutnya, tambahan anggaran 200 juta katanya untuk server dan jaringan. Namun PD BPR Loteng ngotot tidak membayar karena pihaknya sudah ada kerjasama dengan USI.

Dia mengaku, bahwa 100 juta yang dibayarkan merupakan bagain dari Rencana Kerja Tahunan (RKT) tahun 2016 dan sudah menjadi dokumen untuk biaya proses proses penggabungan. Diakhir rapat, pemegang saham sepakat membuat TOR penggunaan anggaran secara tentatif namun anehnya, TOR yang disepakati itu belum pernah liihatnya.
Terkait alokasi anggaran 100 juta, Afifi dicecar kenapa tidak menanyakan kemana saja penggunan uang itu. Ia terlihat seakan tidak berani membuka di persidangan fakta suasana yang terjadi pada rapat evaluasi pemegang saham saat itu.

Satu hal yang diingat Afifi pada setiap kegitan rapat PD BPR kepala Biro Administrasi Perekonomian Setda NTB, Manggukang Raba saat itu selalau ada disetiap kegiatan. Bahkan kata dia,
yang menginisiasi pengeluaran dari iuran 100 juta itu disampaikan langsung oleh Manggaukang. Dimana masing-masing PD BPR harus memgalokasikan iuran 100 juta.

Sementara itu, Penasihat Hukum (PH) Iikhwan mempertanyakan kepada Afifi dimana sumber anggaran untuk biaya server, namun Afifi mengaku tidak tau.
Adapaun uang 100 juta itu, dia diminat disetor ke rekening atas nama Mutawalli.

Sementara itu, PH Mutawalli, Suhartono yang merupakan dari kantor Imam Sofyan and Associates mempertanyakan pembina, pengawas PD BPR baik di kabupaten atau di Provinsi. Oleh Afifi menjawab di kabupaten kepala bagian ekonomi dan begitu juga di provinsi kepala biro ekonomi. Dari keterangan saksi kata dia, peran peran pengarah, penanggung jawab dan koordinator dalam SK gubernur tersebut lebih sentral.
“Apalagi sudah disebut Manggaukang juga,” jelasnya.

Di tempat yang sama, JPU Hadaeman saat dikonfirmasi usai sidang terkait jadwal pemanggilan pejabat pemprov yang disebut sebut, dia mengatakan masih menyusun jadwal namun pihaknya memastikan akan ada pemanggilan bagi mereka.

“Tunggu saja jadwalnya,” jawab singkat dia. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here