Beranda Praya Metro Kelola Simpan Pinjam Mesti Jeli

Kelola Simpan Pinjam Mesti Jeli

BERBAGI
TARNADI/RADAR MANDALIKA BIMTEK: Sebanyak 25 manager BUMDes mengikuti pelatihan tingkat dasar unit usaha simpan pinjam di Aula DPMD Lombok Tengah, kemarin.

PRAYA—Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang mengelola unit usaha Simpan Pinjam (SP) diminta lebih jeli menggelontorkan dana yang dikelola. Pasalnya, unit usaha ini kerap menjadi persoalan, karena banyak nasabah yang macet alias tidak menyetor pinjamannya. Hal ini disampaikan saat 25 manager BUMDes mengikuti pelatihan tingkat dari bagi manager perusahaan desa ini di Aula DPMD Loteng, kemarin.
Karena itu, Kepala Bidang Kelembagaan pada DPMD Loteng, Sri Muliana Widiastuti meminta semua pengurus BUMDes harus berhati-hati dalam menyalurkan dana untuk unit usaha tersebut. Untuk itu hendaknya calon debitur yang diprioritaskan yakni mereka yang memiliki usaha, terutama bagi usaha kecil dan menengah (UKM). Sebab sejatinya hajat unit usaha ini untuk membantu warga agar terhindar dari maraknya rentenir. Akan tetapi jika tidak berhati-hati, malah akan menjadi beban pengurus. Tidak itu saja, pengurus hendaknya juga membuat kajian mendalam terhadap kriteria dari calon debitur. Jangan sampai, setelah menerima pinjaman justru nasabah lari dari tanggung jawab dan menjadi beban desa untuk menggelontorkan penyertaan modal lagi ke BUMDes.
“Tolong pengurus terutama managernya fokus untuk mengelola unit usaha ini. Jangan sampai dana yang dipinjamkan ini macet dan tidak memiliki laporan yang jelas,” sarannya.
Ditambahkan, dari 127 desa yang ada kini BUMDes berjumlah 113. Sekitar 80 persennya mengelola unit usaha SP bersama dengan unit usaha lainnya. Hanya saja ungkap Sri, jika mengacu pada tersedianya struktur organisasi, manageman pengelolaannya, adanya modal usaha, adanya unit usaha yang dikembangkan, adanya laporan perkembangan usahanya dan badan hukum dari Perdes.
Di sisi lain lanjut Sri, sejauh ini baru 35 BUMDes yang aktif. Oleh karena itu ia berharap, dengan beberapa kali melaksanaan pembinaan melalui pelatihan ke depannya semuanya bisa berkembang.
“Sebagian besar memang bergerak BUMDes kita, tapi itu tadi. Rata-rata tidak pernah melaporkan pelaksaaan usahanya ke desa apalagi ke DPMD,” sebutnya.
Sementara M Ihdal Umam dari Pusat Keunggulan Sang Surya (PKSS) selaku pembicara dalam kegiatan tersebut mengakui bahwa usaha SP memang tidak mudah dijalankan, apalagi sumber dananya dari desa. Untuk itu, ia berharap pengurus BUMDes lebih jeli memperhatikan tiga poin kajian dari calon debiturnya. Misalnya perkembangan dan pergerakan perekonomian, pengeluaran dan utangnya di kreditur lain dan taksiran harga barang yang ada di rumahnya meski dana yang disalurkan per debitur itu tidak banyak, yakni berkisar dari Rp 2-5 juta. Hal tersebut memang mesti menjadi perhatian serius dari pengurus BUMDes jika tidak ingin unit usaha ini tidak macet.
“Dengan melakukanm kajian seperti ini pengurus bisa menaksirkan berapa besar pinjaman yang akan dikasih. Kalaupun menggunakan agunan, kajian di atas sebaiknya dilakukan juga,” pungkasnya. (tar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here