Beranda Headline Oknum Dokter Puskesmas Kuta Ogah Layani Pasien

Oknum Dokter Puskesmas Kuta Ogah Layani Pasien

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA KESAL: Sejumlah keluarga korban lakalantas asal Desa Prabu, Baiq Riska tengah berdiskusi di rumah duka soal langkah untuk menyikapi kekesalannya kepada oknum dokter Puskesmas Kuta, Jumat (13/7) akhir pekan lalu.

PUJUT—Seorang dokter di Puskesmas Kuta, inisial A diduga ogah melayani pasien. Hal ini lantaran tindakan yang tidak ingin melayani pasien asal Dusun Prabu, Desa Prabu, Kecamatan Pujut yang ada di rumahnya. Dimana korban atas nama Bq Riska meninggal karena kecelakaan lalu lintas (Lakalantas). Kecelakaan terjadi di ruas jalan Dusun Bun Gupuk desa setempat pada Jumat, (13/7) lalu. Karena kondisi parah, keluarga membawanya ke rumah duka.
Lalu Guntur, salah satu kelurga korban menuturkan, sikap pelit dari dokter tersebut untuk melayani warga terlihat saat dirinya meminta yang bersangkutan untuk melakukan pemeriksaan medis terhadap jasad korban. Permintaan itu disampaikan, untuk melengkapi syarat mendapatkan dana asuransi. Karena harus ada keterangan dari tenaga medis. Akan tetapi, dr Hj Ari menolak untuk datang ke rumah korban dan meminta korban dibawa ke Puskesmas. Dokter itu beralasan karena saat itu di luar jam kerja. Padahal, jika melihat tenaga medis itu pelayanannya 24 jam. Lagi pula, kondisi korban yang meninggal juga cukup parah terutama di bagian kepala karena terlindas dum truk.
“Setelah kita tidak bawa ke Puskesmas, kita suruh dokter yang bersangkutan untuk melihat kondisi jasad korban. Tapi alasannya di luar jam kerja. Apa begitu cara tenaga medis menjawab pasien?” sesalnya.
Tidak hanya itu saja, tambah pria yang juga mantan Sekdes Prabu ini, permintaan keluarga tidak sampai di situ. Berselang beberapa menit, dirinya kembali menghubungi dokter tersebut via ponsel dan memohon agar menugaskan perawat Puskesmas untuk datang ke rumah duka untuk memeriksa kondisi jasad korban. Namun lagi-lagi dokter tersebut menolak permohonan pihak keluarga dengan berdalih hanya dua orang perawat yang piket di Puskesmas. Karena merasa dibohongi, pihak korban pun kembali meminta kepada dokter tersebut agar salah satu keluarga korban yang menjadi tenaga medis di Puskesmas Kuta untuk memeriksanya.
“Tapi dia jawab lagi dengan alasan harus dia yang lihat. Padahal kalau dokter berhalangan hadir kan bisa perawat. Kan ini tidak masuk akal,” terangnya.
Terhadap persoalan ini, salah satu keluarga korban yang enggan dikorankan namanya juga sangat menyesalkan ulah dokter tersebut. Ia menilai dokter tersebut tidak pantas memperoleh gaji dan tunjangan besar. Tapi tidak mau melayani masyarakat dengan baik. Selain itu, ia juga meminta agar Dinas Kesehatan (Dikes) mengevaluasi dokter yang bersangkutan. Bila perlu, Dikes memutasinya jauh-jauh. Karena sikap dokter tersbeut sangat tidak berprikemanusiaan. Hal ini ia katakana karena salah satu dokter yang lain di Puskesmas Kuta memperbolehkan dan bersedia memeriksa jasad korban.
“Kalau tidak begitu mungkin kami akan geruduk Puskesmas Kuta kemarin,” ungkapnya.
Menjawab kekesalan warga Prabu ini, Kepala UPT Puskesmas Kuta, Zainal Abidin dihubungi via ponsel enggan menjawab. Beberapa kali wartawan Koran ini menghubunginya,tidak direspons. (tar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here