Beranda Headline Para Penghafal Alquran Dari Pulau Seribu Masjid (17)

Para Penghafal Alquran Dari Pulau Seribu Masjid (17)

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA Zuhaidi Firdaus

Jadi PNS Tidak Lupa Hafalan 30 Juz

Menjadi staf berstatus PNS di bagian Hukum dan Humas Sekretaritan DPRD Lombok Barat tidak lantas membuat Zuhaidi Firdaus tidak bisa mempertahankan hafalan alquran 30 Juznya.
WINDY DHARMA-LOBAR

SIAPA yang menyangka Zuhaidi Firdaus salah seorang PNS di bagian Hukum dan Humas Sekretariatan DPRD Lobar merupakan salah satu penghafal alquran (Hafiz). Di balik kehumoris dan pembawaan yang santai, pria 32 tahun ini merupakan penghafal alquran 30 Juz.
Zuhaidi merupakan salah satu alumni kedua Ponpes Yusuf Abussatar Kediri sekitar tahun 2003. Bahkan sejak lulus hingga kini, dirinya masih tetap mengabdi di ponpes yang berdiri sejak 1995. Tidak tanggung-tanggung ia tercatat sebagai Staf Pengajar Bidang Tahfizul Quran atau penyimak, penerima hafalan santri/santriwati MA.
“Jadi pulang dinas sekitar setengah lima, langsung saya ke pondok untuk mengajar, menerima setoran hafalan. Saya sengaja mengambil jam kedua, agar tidak mengganggu pekerjaan dinas,” ungkap pria asal Kediri ini.
Tidak mudah untuk menjadi seorang hafidz atau penghafal alquran. Ia mengatakan sangat banyak cobaan dan hambatan yang dilalui.
Ia mencontohkan dirinya yang membutuhkan waktu tiga sampai empat tahun untuk menghafal 30 Juz. Mulai dari dari kelas I MTS hingga kelas II MA.
Mulai dari sakit, malas, bosan dan stres ketika hafalan tidak mencapai target dan sebagainya sudah dirasakanya. Namun cobaan itu berhasil dihadapinya seiring waktu.
“Rasa malas, bosan atau stres sendiri kalau tidak dilawan, itu akan menjadi persoalan untuk meningkatkan hafalan,” ujarnya.
Iapunya cara sendiri untuk menghadapi ketika rasa malas, bosan atau stres, tiba. Ia hanya perlu sejenak istirahat menenangkan diri. Ketika sudah tenang, barulan ia kembali melanjutkan membaca, sembari menguatkan tekad untuk menuntaskan hafalan.
“Cobaan dan hambatan semacam itu sama dialami dan dihadapi santri/santriwati saat ini. Maka ketika merasa seperti itu datang, istirahad dan cari udara segar,” sambungnya.
Tak hanya itu ia juga kadang menyarankan santrinya untuk melakukan kegiatan lainya seperti berolahraga. Kendati demikian ia mengakui walupun berbagai cara itu sudah dilakukan, ada saja semangat santri/santriwati yang tidak kembali, bahkan ujungnya keluar. Baik secara baik-baik atau meminta izin.
“Jadi bisa saya katakan bahwa mereka yang menjadi penghafal Alquran itu adalah orang-orang terpilih. Tidak peduli dari awal mereka masuk itu karena keinginan orang tua atau keinginan pribadi. Karena meskipun keinginan orang tua, di dalam prosesnya itu ternyata si anak ini suka, dan nyaman menghafal,” beber ayah dua orang anak ini.
Pada Ponpes Yusuf Abdussatar para santri/santriwati diharapkan bisa menghafal 30 Juz selama tiga sampai empat tahun. Para santi ditargetkan dalam sehari mampu mengafal satu muka atau satu samapai setengah lembar.
Namun bagi yang tidak mencapi target itu ada sanksi yang diberikan. Buka berupa fisik namun lebih kepada edukasi yang siberikan.
“Kalau tidak bisa menghafal, itu kita minta dia membaca Alquran satu jam, atau berjam-jam dengan disimak,” jelasnya.
Berbicara masalah mempertahankan hafalan jauh lebih sulit lagi. Dikarenakan manusia pada dasarnya memiliki sifatnya lupa. Belum lagi dengan rutinitas pekerjaan setiap hari. disamping prilaku keseharian dan ujian dunia yang berpotensi merusak ingatan hafalan.
Iapun sedikit memberitahukan prilaku keseharian yang bisa merusak ingatan hafalan. Seperti tertawa terbahak-bahak dimana diyakini mulut yang terbuka lebar, memberikan celah bagi setan untuk masuk.
Sedangkan untuk ujian dunia seperti zina mata dan perbuatan dosa lainnya.
“Jadi hal-hal semacam itu harus dihindari,” imbaunya.
Iapun ditengah aktifitasnya di pemerintahan tetap mempertahankan hafalannya sendiri. Bahkan ia mengungkapkan setidaknya, dua lembar harus dibaca usai solat lima waktu. Sehingga jika dalam satu Juz itu sembilan lembar, maka dalam sehari itu sudah mampu satu Juz untuk dihafal atau diingat.
“Jadi ada targetnya lah berapa yang harus dibaca untuk mempertahankan hafalan. Kemudian tadi, hindari hal-hal yang bisa merusak ingatan hafalan,” tandasnya. (bersambung/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here