Beranda Lombok Barat Berkah Ramadan Pembuat Manisan Kolang Kaling Desa Kekait

Berkah Ramadan Pembuat Manisan Kolang Kaling Desa Kekait

BERBAGI
WINDY DHARMA/RADAR MANDALIKA OLAH: Amaq Ma’aludin saat mengolah kolang kaling di kediamannya di Dusun Kekait Desa Kekait Gunungsari, kemarin.

Raup Untung Hingga Jutaan Rupiah, Bisa untuk Berlebaran

Bulan Ramadan membawa keberkahan tersendiri bagi sejumlah pembuat manisan kolang kaling di Dusun Kekait, Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari. Amaq Ma’aludin salah satunya.

WINDY DHARMA/LOBAR

KOLANG-kaling sudah tak asing bagi para pecinta minuman lokal khususnya es campur. Berwarna transparan dengan sensasi kenyal, kolang-kaling yang memiliki nama lain buah atap ini, berbentuk lonjong, licin dan berasal dari biji pohon aren yang diolah.
Pada bulan puasa seperti ini, jenis panganan ini kerap dicari pedagang es atau minumal lokal lainnya untuk menjadi bahan campuran di minuman yang mereka jual. Hal ini menjadi berkah tersendiri bagi para pembuat manisan kolang-kaling.
Seperti yang dirasakan Amaq Ma’aludin, pembuat manisan kolang-kaling asal Dusun Kekait Desa Kekait Kecamatan Gunungsari Lobar. Ayah dua orang anak ini mengaku kebanjiran pesanan kolang-kaling dari para pedagang es hingga rumah makan.“Pas bulan puasa gini banyak yang nyari, ada yang dipakai jadi campuran es cendol, es buah, dan makanan tradisional juga,” kata Amaq Ma’aludin yang ditemui di kediamannya, kemarin.
Imbas tingginya permintaan atas panganan itu, membuat ia bersama keluarganya dapat menjual hingga Rp 150-200 ribu dalam seharinya. Jumlah itu dirasa cukup besar disamping keuntungan yang diperolehnya di luar bulan puasa. “Alhamdulillah kalau pas bulan Ramadan gini, saya biasanya dibantu sama keluarga,” ucapnya.
Tidak sulit dalam mengolah buah aren itu menjadi kolang kaling. Hanya saja, lamanya proses pembuatan cukup menyita waktu. Ma’aludin menuturkan, proses pembuatannya bisa berhari-hari.
Diawali membeli buah aren dari pemilik kebun pohon aren di desanya, karena dirinya tidak memiliki kebun pohon aren sendiri. “Dihari bisa harga Rp 10-20 ribu. Cuma kalau masuk bulan puasa, harga yang Rp 20 ribu pertandan. Saya belinya untuk sekali produksi, sampai sepuluh tandan itu Rp 200 ribu untuk bulan ini,” ungkapnya.
Kemudian itu buah dipisahkan dari tangkainya satu persatu. Setelah terpisah, buah lantas dimasukan ke panci berisi air untuk direbus selama satu jam lebih. Buah aren yang sudah direbus didipisahkan antara kolang-kaling dengan kulit arinya. Barulah direndam kembali sebelum nantinya akan dijual ke pasar.
Perbak buah kolang-kaling dijual dengan harga Rp 135-150 ribu. Pria yang sudah berjualan selama 20 tahun ini bisa mendapat keuntungan bersih sekitar Rp 100 ribu perharinya, setelah dikurangi biaya produksi. “Karena produksi setiap hari, seminggu untungnya bisa Rp 1,5 hingga Rp 2 juta kita didapat. Tapi kalau hari normal, untung bersih Rp 80 ribu per hari,” akunya.
Dari berjualan kolang-kaling itu, ia dan sang istri Inaq Mukminah mampu memenuhi kebutuhan hidup termasuk menyekolahkan kedua anaknya. “Kalau penghasilannya lumayan, bisa untuk beli baju anak-anak di hari raya Idul Fitri,” kata Mukminah dengan raut wajah bahagia. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here