Beranda Pendidikan Upaya SMPN 7 Praya Menghindari Wacana Merger Lakukan Berbagai Strategi, Percaya Hasil...

Upaya SMPN 7 Praya Menghindari Wacana Merger Lakukan Berbagai Strategi, Percaya Hasil Tak Khianati Usaha

BERBAGI
BAMBANG/RADAR MANDALIKA BELAJAR: Sejumlah siswa SMPN 7 Praya sedang belajar di ruangan, kemarin.

Dinas Pendidikan Lombok Tengah sedang melakukan evaluasi terhadap sejumlah sekolah untuk di merger. Salah satunya merupakan SMPN 7 Praya. Namun pihak sekolah tetap berupaya untuk bisa keluar dari zona merger.

LALU BAMBANG KURNIAWAN-LOTENG

GEDUNG lengkap, namun jumlah siswa tidak kunjung mengalami pertumbuhan. Hal ini menjadi salah satu pertimbangan dinas untuk melakukan merger. Ada beberapa kandidat sekolah di Lombok Tengah yang masuk dalam zona merger. SMPN 6 Jonggat dan SMPN 7 Praya misalnya. Dimana dua sekolah yang dibangun dari bantuan pemerintah Australia ini tidak kunjung mengalami pertumbuhan dalam jumlah siswa. Setiap tahun pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) memang ada. Tapi tidak banyak, hanya itungan jari. Ada berbagai faktor yang kemudian menyebabkan sekolah minim murid. Kalah bersaing, masih belum populer karena usia masih baru, hingga menjamurnya lembaga pendidikan yang notabene dalam satu lokasi. Terlebih dengan mulai diterapkannya sistem zonasi, tentu hal tersebut dapat merugikan. “Kami di sini tidak bisa berbuat banyak dengan sistem yang diterapkan. Apalagi lembaga pendidikan semakin banyak,” tutur Kepala SMPN 7 Praya, Muhrim.   

Tiga kali ganti kepala sekolah, pertumbuhan signifikan belum juga terjadi. Namun dengan kondisi yang dihadapi saat ini, pihak sekolah masih memiliki semangat dan harapan untuk bisa seperti yang lain. Karena bukannya hanya kelangsungan sekolah kedepan yang hanya dipikirkan. Tapi juga nasib guru yang sudah mengabdikan diri selama ini di sekolah tersebut. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tidak bisa terlalu diharapkan. Karena kurangnya murid, sekolah hanya mendapat sekitar Rp 8 jutaan. Apa yang bisa diharapkan untuk mengembangkan sekolah jika dana yang didapat hanya secuil, nyaris tidak ada. Atas dasar itu, keluarga besar sekolah berupaya untuk membangun kembali sekolah. Berbagai upaya akan dilakukan keluarga sekolah untuk bisa bersaing dan keluar dari zona merah. “Kami sudah siapkan cara untuk mendapatkan murid,” bebernya.

Upaya yang dilakukan mulai dari sosialisasi langsung ke sekolah terdekat hingga ke rumah warga.  Dengan mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki. Guru dan pegawai di sekolah tersebut, sudah satu komitmen untuk bagaimana berjuang bersama. “Guru-guru akan disebar untuk sosialisasi mencari murid,” tuturnya.

Sempat pihak dinas meminta sekolah untuk lebih inovatif dan kreatif. Dalam rangka meningkatkan minta siswa untuk bersekolah di sana. Tentu itu juga akan dilakukan. Meski dengan pertimbangan kondisi terutama keuangan sekolah yang tidak bisa diharapkan. Upaya yang dilakukan tersebut tidak lain untuk membangun kembali sekolah. Tidak ada kata sia-sia, apalagi dengan tujuan yang mulia. Sekolah dibangun untuk bisa dimanfaatkan oleh masyarakat. Hanya saja masyarakat saat ini masih belum menyadari, sehingga perlu untuk disadarkan. Pihak sekolah tetap optimistis, usaha yang dilakukan nantinya akan membuahkan hasil maksimal. “Tidak ada yang tidak mungkin, selama ada kemauan pasti ada jalan,” ungkap Muhrim mengutip kata-kata bijak yang mampu membangun semangat dan optimistis. (*)    

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here