Beranda Headline Kabinda Sebut Situasi NTB Kondusif

Kabinda Sebut Situasi NTB Kondusif

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA RAKOR: Kabinda NTB, Tarwo Koesnarno (tengah), Ketua FKDM, M Natsir (kanan) dan Sekretaris H Katarudin (kiri) saat memimpin Rakor, kemarin.

MATARAM – Aksi bom bunuh diri yang terjadi di tempat di Surabaya, Jawa Timur jadi perhatian pemerintah NTB juga.
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) (Kabinda) NTB, Tarwo Koesnarno menjelaskan, sel-sel tidur pemikiran radikal di beberapa titik di NTB masih ada terutama di Pulau Sumbawa, namun Tarwo sendiri tidak menyebutkan kelompok sel-sel tidur tersebut. Dia hanya menyampaikan jumlah mereka sudah berkurang jika dibandingkan dengan tahun tahun lalu. Mereka juga dipastikan tidak bergerak atau melakukan sesuatu yang mengarah kepada tindakan teror seperti yang terjadi di Surabaya. Namun, Tarwo masih terus melakukan pantauan dan pencegahan dini.
“Situasi NTB saat ini kondusif, itu hasil pemetaan belum ada kejadian seperti di Surabaya dan daerah lainnya,” terangnya usai rapat koordinasi di kantor Kesbagpoldagri NTB, kemarin.
Menurut Tarwo, semua instansi terus menekan agar tidak bangkit kembali, jika langkah ini dapat digalakkan terus menerus, merupakan keberhasilan tersendiri untuk NTB. Indeks kerawanan NTB, kata dia sudah turun dari merah ke hijau bahkan NTB sekararang berada diurutan ke 18 dibandingkan urutan tahun sebelumnya.
Sementara itu terkait dengan pergeseran lokasi rapat jamaah radikal yang semula berada di Bima kini banyak berkegiatan di Dompu, Tarwo juga memastikan mereka pun tidak melakukan tindakan yang dikhawatirkan.
“Seperti saya bilang tadi NTB kondusif,” tegas dia.
Disinggung dengan keberadaan jaringan Jamaah Ansor Daulah (JAD) dan Jamaah Ansor Tauhid (JAT) di Pulau Sumbawa apakah masih ada atau tidak, Tarwo mengaku masih ada namun jumlah anggota JAD sekitar puluhan orang, sedangkan JAT mencapai 60 orang. Dimana semua kelompok tersebut tidak sejalan dengan ideologi Pancasila dan patut dikawal.

“Yang jelas semua kegiatan yang bertentangan dengan ideologi Pancasila jadi konsentrasi dan tetap dikawal,” tegas dia.

Sementara, Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) NTB, M Natsir juga mengatakan hasil pantauan di lapangan saat menggelar roadshow mengenai ujaran kebencian, hoax dan radiklasime di 10 Kabupaten/Kota di NTB, pihaknya menemukan masih ada bibit radikalisme yang orientasi pada kelompok-kelompok tertentu di NTB. Namun pengaruhnya ke masyarakat tidak terlalu besar karena masyarakat sudah mampu memilah sehingga keanggotaannya semakin berkurang.
Hal itu diketahui dari roudshow di Dompu, ada ditemukan dua orang tokoh aliran keras tidak mau berdiri saat menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya. Setelah itu, dirinya langsung melakukan pendekatan kemudian bertanya, adapun jawaban tokoh tersebut, bahwa lagu Indonesia Raya tidak wajib dibaca dengan berdiri.

Dua orang itu lanjutnya juga menyatakan dirinya benar mereka radikal tetapi bukan radikal membunuh orang. Radikal yang dimaksud, terkait ajaran agama, dalam lingkungan dia sendiri dan bukan yang merusak negara. Mereka radikal tetapi tetap membela NKRI.

Natsir belum menemukan mereka berasal dari kelompok mana saja, namun FKDM bersama pihak terkait akan terus pupuk supaya mau menerima ajaran dari orang lain, tidak hanya keras dengan ajaran mereka saja.

“Aliran garis keras sudah menurun bahkan NTB sudah garis hijau,” yakin dia. (cr-jho/r1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here