Beranda Lombok Utara Tenun Gumantar Mati Suri

Tenun Gumantar Mati Suri

BERBAGI
KREATIF: Menenun, salah satu tradisi yang dimiliki Lombok Utara dan masih dilestarikan hingga kini, khususnya di Kecamatan Bayan dan Kayangan. IST/RADAR MANDALIKA

Terkendala Bahan Baku, Tangan-Tangan Terampil Mulai Kaku

KLU—Tradisi dan usaha tenun warga Kampung Adat Dusun Dasan Beleq Desa Gumantar Kecamatan Kayangan sudah berlangsung sejak lama. Namun hingga kini usaha kreatif ini masih ditekuni sejumlah warga. Namun di satu sisi, semangat mereka melestarikan kreatifitas menenun ini terkendala dengan bahan baku yang sangat sulit didapatkan. Hal ini pun menjadi masalah bagi mereka untuk meneruskan usahanya.
“Kalau sekarang menenun dan memintal benang ini hanya dilakukan saat acara adat saja. Ya palingan tiga tahun sekali,” ujar Ketua Pokdarwis Jaga Raganta, Jumayar.
Pokdarwis Jaga Raganta Desa Gumantar pun berharap aktivitas menenun dan memintal benang ini bisa dihidupkan kembali setiap hari oleh warga. Karena ini sebagai daya tarik bagi wisatawan yang datang ke desa. Dikatakan, saat ini ada sekitar empat orang warga yang masih melakukan aktivitas memintal benang dan menenun kain. Namun tidak dilakukan setiap hari. Berbeda dengan puluhan tahun silam, dimana menenun menjadi aktivitas sehari-hari warga.
“Dulu memang iya, karena memang mereka membuat baju dan kain selimut sendiri,” terang Jumayar.
Ditambahkan, selain menghidupkan kembali aktivitas menenun dan memintal benang setiap harinya, Pokdarwis Jaga Raganta juga berencana akan menampilkan seni musik tradisional khas Genggong sebagai daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke desa tersebut.
Di satu sisi Kepala Dusun Lenggorong Desa Gumantar, Putradi membenarkan jika aktivitas menenun dan memintal benang di desanya tidak lagi dilakukan setiap hari seperti dulu. Hal ini disebabkan karena tidak adanya ketersediaan bahan baku untuk membuat benang. Selain itu, orang tua atau para pelingsir yang memang mewarisi ilmu bertenun tidak menurunkan atau tidak mengkader generasi penerusnya. Akibatnya lambat laun alat tradisional yang digunakan sejak turun temurun itu menjadi usang, sehingga tidak terurus kembali.
Secara otomatis alat-alat tradisional yang ditinggalkannya pun tidak ada yang mengurusnya. Alat-alat itu hanya disimpan begitu saja di sembarang tempat.
“Masyarakat kita di sini menenun menggunakan benang yang dipintal sendiri. Tapi sekarang bahan baku untuk membuat benang agak kurang,” jelasnya.
Menurut Putradi, kurangnya bahan baku kapas untuk memintal benang dikarenakan saat ini sudah sedikit masyarakat yang menanam kapas yang dijadikan bahan baku. Berbeda dengan dulu, banyak masyarakat yang menanam kapas.
“Sekarang ada tinggal empat orang yang masih fokus memintal benang dan menenun. Tapi ini dilakukan ketika ada bahan bakunya saja,” katanya.
Ditambahkan, warga yang masih aktif memintal benang dan menenun ini selalu menggunakan bahan baku yang dibuat sendiri, meskipun bahan baku benang ada dijual di luar.
“Bisa saja dilakukan setiap hari asalkan ada bahan bakunya. Apalagi penenun-penenun di sini hanya menggunakan benang yang dipintal sendiri, tidak memakai benang yang diproduksi dari toko,” ungkapnya. (cr-dhe)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here