Beranda Mataram Bayar Sewa Toko Pakai Non Tunai

Bayar Sewa Toko Pakai Non Tunai

BERBAGI
RIRIN/RADAR MANDALIKA AKAN NON TUNAI: Toko-toko yang ada di Mataram Craft Center (MCC) ini pembayaran sewanya tak lagi tunai, melainkan non tunai.

MATARAM—Pembayaran non tunai mulai diberlakukan untuk sewa pertokoan dan pasar grosir milik Pemkot Mataram. Data Dinas Perdagangan Kota Mataram, jumlah kios dan toko yang berada di dalam maupun luar pasar sebanyak 970 unit. Selama ini membayar sewanya secara manual. “Dulu penyewa datang ke kantor membayar atau petugas menagihnya door to door. Alur itu yang sekarang kita pangkas,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, L Alwan Basri, kemarin.
Melalui pola non tunai, penyewa menyetor ke bank dengan sistem debet. Selanjutnya tinggal datang ke kantor Dinas Perdagangan guna menunjukkan bukti setoran. Cara ini sekaligus menertibkan penyewa yang selama ini kerap molor membayar hingga enam bulan setelah berakhirnya masa pembayaran. “Kita beri waktu sampai Mei. Setelah Mei akan kita lakukan pengawasan dan penertiban,” ungkapnya.
Target dari sewa pertokoan dan pasar grosir tahun 2018 sama dengan tahun lalu, yakni Rp 750 juta. Namun dengan adanya Peraturan Daerah (Perda) yang baru, Alwan optimis bisa realisasinya bisa 100 persen. Meski nantinya target dinaikkan hingga Rp 1 miliar.
Untuk itu, akan dilakukan evaluasi serta sinkronisasi dengan Badan Keuangan Daerah (BKD) untuk rasionalisasi target. “Kita wacanakan Rp 1 miliar, makanya harus didata potensinya,” imbuhnya.
Ditambahkan, kios dan toko ini hampir ada di semua pasar. Kalau yang di luar pasar seperti Jalan AA Gde Ngurah, di luar Pasar Panglima, shopping centre, dan Pasar Seni Sayang-sayang. Menyinggung kondisi di Pasar Seni Sayang-sayang yang cenderung sepi, menurut Alwan, tak boleh jadi alasan tidak membayar uang sewa. “Sewa tetap dibayar baik toko itu digunakan atau tidak,” tegasnya seraya menyebut, sewa termahal seperti di toko Jalan AA Gde Ngurah sebesar Rp15 juta hingga Rp20 juta per tahun. Ini sesuai Perda yang baru, dimana sebelumnya hanya antara Rp 3 juta hingga Rp 5 juta pertahun.
Sementara perolehan retribusi tahun lalu, diakui Alwan, tercapai sekitar Rp730an juta. “Dulu door to door nagihnya. Kalau ketemu penyewanya. Jadi tidak efektif. Tenaga juga kurang untuk menagih,” jelasnya memberikan alasan.
Manfaat lain non tunai juga untuk mencegah kebocoran, serta mengedukasi masyarakat. “Sistem non tunai juga menghindari calo dan orang-orang yang tidak bertanggungjawab,” pungkasnya. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here