Beranda Lombok Timur Mendengarkan Suka Duka SPG Produk Rokok

Mendengarkan Suka Duka SPG Produk Rokok

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA Dewi

Harus Komunikatif, dan Lihai Tangkal Godaan Konsumen

Menjadi Sales Promotion Girl (SPG), bukan pekerjaan gampang. Banyak hal yang harus dikuasai sebagai seorang SPG, sehingga barang yang ditawarkan itu dibeli calon konsumen.
MUHAMAD RIFA’I – LOTIM

MENJADI SPG, tidak saja dibutuhkan fisik atau penampilan yang menarik, seperti kecantikan atau ketampanan. Akan tetapi, butuh mental kuat dan kemampuan komunikasi yang baik. Sehingga, barang yang dipromosikan itu menarik minat calon pembelinya.
Sebagai SPG, kemampuan komunikasi mutlak dimiliki. Tanpa komunikasi yang baik, atau tanpa mampu mengenal situasi dan kondisi yang akan diprospeknya, tentu tidak akan membuat orang tersebut tertarik dengan produk yang ditawarkan.
Dalam menjalankan tugas sebagai SPG, apalagi SPG tersebut adalah seorang wanita, banyak hal yang dihadapi di lapangan. Tak jarang para SPG cantik ini digoda oleh calon pembelinya. Kadang pula, modus calon pembelinya menanyakan alamat, nomor HP dan sebagainya. Menjadi SPG harus bisa menahan godaan setiap calon pelanggannya.
Penuturan Dewi, salah satu SPG produk rokok, banyak suka dan duka dialami sebagai seorang SPG. Dari perusahaan tempatnya bekerja, telah menugaskannya menjual produk yang dibawanya. Belum lagi harus berpanas-panasan dan paling penting, mencapai target yang sudah ditetapkan perusahaan. Produk yang dipasarkannya kali ini, diberikan target setiap hari harus laku 42 bungkus.
Jika memenuhi target penjualan yang ditetapkan perusahaan, maka mendapatkan upah Rp 340 ribu. Dara cantik kelahiran Banyuwangi Provinsi Jawa Timur ini, memilih menjadi SPG rokok, untuk mencari pengalaman. Padahal pekerjaan sebelumnya menjadi Human Resource Departement (HRD) sebuah perusahaan handphone.
Sebelum menjadi SPG Rokok, ia pernah menjajal SPG minuman dan makanan. Risiko bekerja menjadi SPG cukup banyak, dan risiko itu telah diketahuinya. “Saya menjadi SPG sejak tahun 2011. Ketika itu saya masih kelas 2 SMA. Ketika target yang dipasang perusahaan sudah kita capai, setiap kali turun, disana persaan saya plong banget,” kata wanita cantik yang mengaku anak tunggal ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here