Beranda Mataram Kreasi Olah Sampah Plastik Ala Pokja Fidia

Kreasi Olah Sampah Plastik Ala Pokja Fidia

BERBAGI
RIRIN/RADAR MANDALIKA BERKREASI: Lina menunjukkan aneka bonsai, dan pohon sakura yang dibuatnya dari limbah kantong kresek di stand Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram, kemarin.

Buat Bonsai Hingga Pohon Sakura Berbahan Kantong Kresek

Sampah tak jamannya lagi hanya dibuang. Di tangan-tangan kreatif, sampah kantong kresek bisa disulap menjadi barang seni bernilai jual tinggi. Apa saja hasil kreasi itu?
RIRIN FITRIANA-MATARAM

SEBATANG pohon berdiri di depan stand Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram. Dari batang-batangnya keluar bunga berwarna putih, dan merah mudah. Eiitss jangan salah kira. Ini bukan pohon sakura sungguhan. Melainkan pohon palsu yang dibuat dari kantong kresek.
Iya, kantong kresek yang selama ini dipakai mewadahi belanjaan disulap menjadi batang pohon hingga bunga sakura nan cantik. Di tangan Lina Aprilina Wati, Ketua Pokja Fidia dari Kecamatan Ampenan, kantong kresek menjadi bahan seni bernilai jual. “Kalau orang membuang kantong kresek, saya kekurangan banyak kantong kresek,” kata wanita berjilbab ini.
Untuk membuat pohon sakura, Lina mengaku telah menggunakan ratusan kilogram tas kresek. Dari proses pengumpulan bahan sampai pembuatan telah dihabiskan waktu hingga dua tahun. “Ini belum selesai, masih akan ditambah lagi batangnya,” kata dia ditemui di stand Pekan Inovasi dan Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Kota Mataram tahun 2018.
‎Dalam membuat batang pohon sakura, kantong-kantong kresek telah melalui proses pembakaran. Ia mengumpulkan kresek dari para suplier. Seluruh bagian batang pohon hingga bunganya dibuat dari kantong kresek, tanpa pewarnaan. Melainkan menggunakan pewarnaan alami dari kantong kresek tersebut. “Pembakaran awal sampai lima jam pakai tabung gas 3 kilogram,” sambungnya.
Ia mengaku, pada awalnya membuat bonsai. Lama-lama muncul keinginannya membuat pohon sakura Lombok. Dalam proses pembuatannya, ia menuangkan sesuai imajinasinya. Hasil kreasi bonsai dari kantong kresek dijual antara Rp 250 ribi hingga Rp 300 ribu. “Banyak yang sudah kejualan, sampai bingung kalau ada tamu di rumah karena tidak ada contohnya,” imbuhnya sembari tersenyum.
Harga termahal dari kreasinya mencapai Rp1,5 juta. Pemasaran selama ini hanya dari mulut ke mulut dan melalui pameran. “Pemasaran masih skala local,” katanya.
Kenapa pilihannya membuat bonsai? Lina mengaku, memang menyukai bunga. Dimulai dari tahun 2014, ia langsung tertarik membuat bonsai. Dipilihnya bahan plastic karena bila diolah bisa bernilai seni. Kini, ia bersama 10 anggota kelompoknya mengkhususnya membuat bunga dari plastic sebagai produk unggulan. “Ini sekaligus untuk mengurangi sampah plastik,” pungkasnya.(*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here