Beranda Headline Pedagang Pasar Montong Beter Ogah Pindah

Pedagang Pasar Montong Beter Ogah Pindah

BERBAGI
MUHAMAD RIFA’I / RADAR MANDALIKA DITOLAK: Bagian dalam pasar tradisional Montong Beter yang ditolak para pedagang, kemarin.

LOTIM – Ratusan pedagang pasar tradisional Montong Beter Kecamatan Sakra Barat Lombok Timur, menolak pindah ke pasar yang belum lama ini rampung dibangun. Pasar yang dibangun menggunakan dana Tugas Perbantuan (TP) pusat menelan miliaran rupiah ini, hanya mampu menampung 149 pedagang. Sementara, jumlah pedagang 400 orang lebih. Yang mengejutkan pedagang, sistem lapak dalam pasar tak ubahnya seperti pasar los basah. Masing-masing pedagang diberikan lokasi hanya 1,5 meter.
Sedangkan untuk tokonya sendiri, dibangun dengan ukuran 2 meter lawan 1,5 meter. Besar toko ini, menurut pedagang tidak mampu menampung barang dagangannya. Apalagi, dengan sistem lapak di dalam pasar. “Kami tidak mau pindah pak. Masak pasarnya kayak gini modelnya. Apalagi jumlah kami 400 orang pedagang lebih,” teriak para pedagang ini.
“Lebih baik meja beton ini dibongkar pak. Masak meja lebih tinggi ketimbang rata-rata pedagangnya,” teriak pedagang lagi di depan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Lotim.
Kepala Bapenda Lotim, Salmun Rahman langsung turun mendengar keluh kesah para pedagang ini. Dikatakannya, apa yang menjadi tuntutan pedagang bisa dimaklumi. Karena pedagang kesulitan dan kurang nyaman dengan konsep pasar seperti ini. Bapenda tak bisa sepihak dalam mengambil keputusan, akan dikoordinasikan dengan pihak terkait, seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag). “Saya melihat bukan pedagang tak mau pindah. Mereka belum mau pindah karena kondisinya seperti ini. Jadi pedagang terbiasa dengan bentuk yang lama. Selain ada keterbatasan ruang membuat pedagang tidak nyaman,” ungkapnya.
Lanjut Salmun, budaya masyarakat dari segi luas dudukan, harus menjadi perhatian Pemda. Baginya, boleh kekurangan dan meminta dana pada pusat, namun bukan berarti harus mengikuti keinginan atau gambar pusat. Mestinya mengikuti kultur masyarakat dan kebutuhan pedagang. “Tapi barang ini sudah dibangun pemerintah, ada proses dan prosedur. Ada yang lebih berhak, seperti apa kedepannya. Apakah sesuai tuntutan pedagang atau tidak,” tegasnya.
Lebih jauh diungkapkan Salmun, akan sia-sia bangunan yang sudah dibangun dengan anggaran besar tidak termanfaatkan. Jelas akan membuat negara rugi. Baginya, meski pasar sederhana tapi difungsikan lebih bagus, daripada bagus tapi tidak maksimal. “Ini dana TP, segala sesuatunya dari pusat. Mudah-mudahan ini menjadi pelajaran pusat,” tegasnya.
Setiap pembangunan pasar kedepan, ia inginkan ada sosialisasi melibatkan pihak terkait. Selama ini, koordinasi setiap pembangunan pasar sangat kurang. Padahal, yang lebih tahu kondisi pedagang adalah Bapenda, daripada Disperindag. Menurutnya, tidak menjadi soal siapa yang membangun dan mengelola pasar. Yang terpenting, koordinasi harus tetap dilakukan. “Kalau bisa setiap membangun pasar semua diundang dulu. Jangan anggap masyarakat mentang-mentang pedagang tidak bisa berencana, siapa tahu lebih bagus. Sering kali merasa pintar sendiri di atas para pedagang,” pungkasnya. (fa’i/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here