Beranda Headline Januari-Maret, NTB Dilanda 61 Bencana

Januari-Maret, NTB Dilanda 61 Bencana

BERBAGI
ilustrasi

MATARAM – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB mencatat, sebanyak 61 kejadian bencana terjadi selama periode Januari hingga Maret tahun ini. Dari jumlah kejadian tersebut, meninggal dunia tujuh orang, dan 26 orang luka-luka. Secara keseluruhan sebanyak 38.323 jiwa terdampak, 11 rumah rusak berat, 23 rumah rusak sedang, dan 2.122 rumah rusak ringan. Selain itu, bencana juga merusak infrastruktur.
Untuk fasilitas umum tercatat sebanyak delapan jembatan rusak ringan hingga berat, 2.290 meter talud rusak ringan hingga sedang, 10 bendungan rusak ringan hingga berat, serta 623 meter jaringan irigasi. Fasilitas umum juga tidak luput dari dampak bencana. Sedikitnya empat perkantoran rusak ringan, tiga tempat ibadah rusak ringan, dua puskesmas rusak ringan, dan 15 sekolah rusak ringan.
“Ini berdasarakan data yang dihimpun BPBD sesuai informasi yang didapatkan di setiap lokasi bencana,” ujar kepala BPBD NTB, Muh Rum dalam siaran persnya di Mataram, kemarin.
Lebih lanjut Rum menjelaskan, bencana banjir pada bulan Januari merendam sekitar 367 hektare lahan pertanian. Banjir merupakan bencana yang paling sering terjadi, yaitu 36 kejadian, angin puting beliung 14 kejadian, tanah longsor tujuh kejadian, gempa bumi dua kejadian dan konflik sosial dua kejadian. “Bencana ini tersebar di 10 kabupaten/kota se-NTB,” tegas dia.
Dalam hal penanganan bencana khususnya di wilayah NTB, masih dirasa kurang maksimal. Kekurangan itu meliputi Pos Komando Tanggap Darurat belum berjalan secara maksimal sesuai dengan yang diharapkan. Kemudian lemahnya sumberdaya yang dimiliki oleh kabupaten/kota, baik menyangkut peralatan, kebencanaan, anggaran dan sumber daya manusia yang berpengalaman dalam kebencanaan.
Lemahnya koordinasi lintas sektoral, kesadaran masyarakat untuk menjaga dan memelihara lingkungan masih rendah, kerusakan lingkungan dari hulu sampai ke hilir akibat adanya peralihan fungsi lahan, hingga kurang seriusnya aparat penegak hukum melakukan tindakan hukum terhadap perambah hutan.
“Kelemahan lainnya kurangnya sinkronisasi perihal tata ruang antara satu instansi dengan instansi lainnya, dan masih dirasakan kurangnya mitigasi terkait sosialisasi kebencanaan,” ungkapnya.
Sementara, penanganan bencana sampai pertengahan Maret ini lebih dominan dilaksanakan oleh BPBD kabupaten/kota. Untuk BPBD Provinsi NTB tetap memback-up berupa peralatan dan kebutuhan logistik yang diperlukan oleh kabupaten/kota.
Dari berbagai kejadian bencana itu, beragam upaya telah dilakukan BPBD kabupaten/kota, Yaitu rapat koordinasi tingkat kabupaten/kota dengan mengundang BPBD Provinsi NTB, BMKG, OPD terkait, TNI dan Polri. Kemudian menetapkan Keputusan Bupati/Wali Kota terkait dengan Masa Tanggap Darurat (MTD).
BPBD kabupaten/kota juga telah melakukan mendirikan posko siaga darurat bencana di tingkat kabupaten/kota. Tujuannya untuk mempermudah dan mempercepat pelayanan terhadap masyarakat, maupun sebagai media pusat informasi dan data bencana. Selanjutnya, melakukan inventarisasi wilayah yang terkena dampak bencana yaitu dengan cara
melakukan pemetaan, pemantauan secara langsung di wilayah terdampak, melakukan mobilisasi peralatan dan menyalurkan logistik tehadap wilayah terdampak.
“Bersama dengan Badan SAR telah melakukan pencarian dan evakuasi terhadap korban terdampak maupun korban yang hilang terbawa akibat banjir dan akibat kejadian bencana lainnya,” papar dia.
Selama bulan Januari, lanjutnya, kondisi curah hujan berkisar antara 129-790 mm per bulan. Curah hujan teringgi terjadi di Pos Sembalun Kabupaten Lombok Timur yang mencapai 790 mm. Sedangkan curah hujan terendah tercatat di Kecamatan Poto Tano Kabupaten Sumbawa Barat. Sifat
hujan yang terjadi pada bulan Januari 2018 secara umum di wilayah NTB berada pada kisaran Atas Normal (AN). Sadangkan pada bulan Februari terjadi penurunan curah hujan dibandingkan pada bulan Januari.
Selama bulan Februari kondisi curah hujan berkisar antara 200-600 mm per
bulan. Curah hujan tertinggi terjadi di Kecamatan Plampang Kabupaten Sumbawa yang mencapai 639 mm, sedangkan curah hujan terendah tercatat di Kecamatan Maluk Kabupaten Sumbawa Barat.
Sementara sampai pertengahan Maret saat ini masih terus terjadi hujan, walaupun mengalami penurunan cukup signifikan jika dibandingkan dengan bulan Januari
dan Februari. (cr-jho/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here