Beranda Headline Ogoh-ogoh Dilarang Beratribut Politik

Ogoh-ogoh Dilarang Beratribut Politik

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA RAPAT: Suasana rapat koordinasi dengan sejumlah SKPD dan stakeholder, dipimpin Plt Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana membahas kesiapan jelang pawai ogoh-ogoh, dan perayaan Nyepi Tahun Saka 1940, kemarin.

MATARAM—Pawai ogoh-ogoh menjelang peringatan Hari Nyepi Tahun Saka 1940, Jumat (16/3) mendatang, mendapat perhatian serius Pemkot Mataram. Apalagi, pawai dilaksanakan bertepatan dengan tahun politik pemilihan kepala daerah (Pilkada) tahun 2018.
Asisten I Setda Kota Mataram, L Martawang mengatakan, saat rapat koordinasi dengan sejumlah SKPD dan stakeholder, kemarin, Plt Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana menekankan beberapa hal. “Rapat tadi untuk memastikan pawai ogoh-ogoh tahun ini berjalan aman, lancar, dan sukses dengan beberapa penekanan,” katanya usai rapat, kemarin.
Antara lain, bagaimana pelaksanaan pawai ogoh-ogoh yang bertepatan di hari Jumat tetap memperhatikan umat muslim yang melaksanakan ibadah salat Jumat. Kemudian, karena dilaksanakan pada masa kampanye Pilkada maka harus dipastikan seluruh ogoh-ogoh tidak ada menggunakan atribut partai politik (parpol) maupun pasangan calon (paslon). “Sehingga, pawai ogoh-ogoh ini betul-betul menjadi aktivits ritual keagamaan yang sesuai apa seharusnya,” jelasnya.
Dilanjutkan, aparat keamanan juga telah berkoordinasi dengan panitia serta seluruh stakeholder. Nantinya, siap dilibatkan 925 personel dari aparat keamanan Polri, TNI, Satpol PP, Linmas, Pecalang, termasuk Lang-lang. “Polisi juga sudah mengatur jalur dan pengalihan arus lalu lintas pada jalur-jalur yang akan dilalui pawai ogoh-ogoh,” ungkapnya.
Menurut Martawang, mulai pukul delapan pagi untuk Jalan Pejanggik ditutup hingga depan Taman Mayura. Paling lambat pukul sembilan, ogoh-ogoh sudah dibawa menuju lokasi yang disiapkan dari perempatan Pajang. “Sebanyak 128 ogoh-ogoh siap berpartisipasi, berasal dari Loteng, Lobar, dan Kota Mataram,” jelasnya.
Panitia, lanjutnya, juga sudah membuat Standar Operasional Prosedur (SPO) dan tata tertib selama pawai. Selain tidak boleh memakai atribut parpol, dan paslon, peserta pawai juga harus tertib. Serta dilarang mengkonsumsi minuman keras (miras). Bila ada peserta melanggar tata tertib, panitia akan memberi sanksi. “Sudah ada surat pernyataan dibuat peserta untuk menjaga ketertiban selama pawai, dan mematuhi tata tertib,” lanjutnya.
Setelah pawai, saat tradisi perang api juga telah disiapkan petugas dari Pemadam Kebakaran (Damkar) di lokasi. Yakni di Negara Sakah Kelurahan Cakra Timur. Kemudian saat nyepi, terdapat 37 titik gang yang ditutup. Sehingga masyarakat diharapkan menggunakan jalur alternatif lainnya. “Harus dipastikan agar umat Hindu tetap melaksanakan Nyepi dengan khusyuk. Nanti ada pecalang, bersama Pol PP dan polisi tetap patrol untuk menjamin kondisi terkendali, aman dan lancar,” terangnya.
Persoalan lain yang juga menjadi atensi adalah terkait kebersihan. Ogoh-ogoh yang telah usai mengikuti pawai, pada hari Minggu sudah dibakar. Kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) diminta menyiapkan petugas untuk langsung membersihkan lokasi. Bahkan saat pawai, panitia menyiapkan kantong plastik sebagai tempat sampah. “Panitia menyiapkan tas kresek untuk dibagikan ke masing-masing rombongan peserta,” imbuhnya.
Dalam arahannya Plt. Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana menekankan agar persiapan pelaksanaan pawai betul-betul dimaksimalkan. Meskipun ini merupakan kegiatan rutin, namun hal-hal yang bersifat teknis harus dipastikan berjalan dengan baik untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Mengingat tahun ini merupakan tahun politik sehingga bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab dan mencederai makna peleburan Bhuta Kala yang direpresentasikan oleh Ogoh-Ogoh itu sendiri,” kata Mohan. (rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here