Beranda Pendidikan Ini Indikator Sekolah Ramah Anak

Ini Indikator Sekolah Ramah Anak

BERBAGI
IST/RADAR MANDALIKA KOMPAK : Sekretaris IGI NTB bersama Deputi KP3A dan sejumlah pengurus IGI, belum lama ini.

PRAYA–Sekolah maupun madrasah yang menerapkan sekolah ramah anak, mesti menjalankan sejumlah program. Serta memuat visi anak Indonesia yang sehat, cerdas, ceria, berakhlak mulia, dan cinta tanah air. Hal ini sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional, dan sejalan dengan ketentuan dalam konvensi hak anak.

“Penekanannya, bahwa pendidikan bertujuan untuk pengembangan kepribadian, bakat, kemampuan mental dan fisik anak hingga mencapai potensi sepenuhnya,² kata Sekretaris Ikatan Guru Indonesia (IGI) NTB, Halil Subagiono.

Salah satu pengajar di MAN 1 Loteng ini menambahkan, indicator lain adalah pengembangan sikap, menghormati hak asasi manusia, menghormati orang tua, identitas budaya, bahasa, dan nilai-nilai. Hingga penyiapan anak untuk kehidupan yang bertanggung jawab dalam suatu masyarakat. Dilandasi semangat saling pengertian, damai, toleransi, kesetaraan gender, dan persahabatan antar semua bangsa, suku, agama, termasuk anak dari penduduk asli.

Lebih lanjut dijelaskan, sekolah ramah anak juga mengajarkan pengembangan rasa hormat pada lingkungan alam. Setiap sekolah wajib menciptakan kondisi lingkungan sekolah dengan nilai jual sekolah yang aman dan nyaman. “Jika sudah seperti itu, maka secara otomatis aktivitas belajar menjadi aktif dan kondusif,² katanya.

Hal ini penting, sehingga hasil belajar akan berdaya guna. Bila ada kekerasan dan tidak mengayomi, maka murid tidak mengalami perubahan sikap.

Ia mencontohkan, dalam kasus pelaku kekerasan berdasarkan data KPAI tahun 2013 tercatat 2.039 kejadian. Dilakukan oleh oknum guru, 2.871 oleh teman sekelas, dan 1.902 oleh teman lain kelas.

Meski ini terjadi di lima tahun lalu, namun fenomena seperti ini mesti menjadi dasar bagi pihak sekolah dan madrasah untuk membenahi secara perlahan. Tentunya dengan meningkatkan pengawasan oleh pihak sekolah dan madrasah. ²Kekerasan di sekolah tidak akan bisa berakhir jika tidak dibangun kerja sama dan koordinasi yang mesra antara pihak sekolah dengan pihak komite sekolah,” jelasnya.

Termasuk pemberdayaan secara mandiri melalui gerakan sekolah ramah anak, sesuai Permen Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nomor 8 Tahun 2014,² ungkapnya.

Ditambahkan, sekolah ramah anak bukan hanya bisa diterapkan pada sekolah yang maju, dan tidak mesti sekolah mewah. Namun, yang utama adalah bagaimana setiap aktivitas anak sudah memiliki daya dukung termasuk lingkungan yang bersih dan asri.

²Karena itu, guru pun harus mencontohkan sebagai figur yang layak diteladani,² pungkasnya. (fiz/r3)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here