Beranda Politik Akademisi Pertanyakan Keseriusan Paslon

Akademisi Pertanyakan Keseriusan Paslon

BERBAGI
JHONI SUTANGGA/RADAR MANDALIKA Masnun Tahir

MATARAM – Kalangan akademisi mempertanyakan keseriusan pasangan calon (Paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang terpilih nanti. Apakah bisa memprioritaskan program kerjanya pada sektor pendidikan? Mereka yakin, pendidikan menjadi satu alat penting dalam menyelesaikan persoalan atau masalah yang ada di daerah. Dalam hal ini, pihaknya mengimbau masyarakat agar lebih cerdas memilih pemimpin terutama yang pro terhadap dunia pendikanan.

 

Wakil Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram, Masnun Tahir mengaku selama 10 tahun Gubernur NTB, M Zainul Majdi telah menunjukkan keseriusannya membangun citra pendidikan. Hal itu, selain memang secara pribadi, sosok TGB sapaan akrab gubernur, berlatar belakang pendidikan dengan menempuh studi hingga doktor di Universitas Al Azhar, Kairo Mesir tetapi juga TGB memahami bahwa betapa perhatian terhadap pendidikan di daerah menjadi salah satu solusi dari beberapa persolan yang ada.

Masnun menyebutkan, tinggi rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sangat ditentukan oleh faktor pendidikan masyarakat. Untuk itu, bagi Paslon gubernur yang terpilih senantiasai bisa memprioritaskan konsep pendidikan serta melanjutkan program gubernur dan wakil gubernur yang masih tertunda saat ini.

“Secara umum, kalangan akademisi melihat barometer kepemimpinana gubernur dari sejauh mana,” bebernya.

Katanya, kepeduliannya dalam dunia pendikan gubernur harus menjadi perekat antara komunitas-komunitas. Ada komunitas Muhajirin ada komunitas Ansor. Tidak hanya itu, gubernur NTB harus bisa menaikan rangking IPM. Hal itu bisa dilakukan dengan metode melihat skala prioritas pembangunan yang dibutuhkan.

Untuk bisa menyatukan hal tersebut, kata dia disitulah pentingnya jalinan silaturahim. Sentuhan batin tidak cukup melalui ponsel saja. Komunikasi via ponsel hanya menyentuh luar komunikasi saja.

Tidak hanya itu, dirinya mempertanyakan generasi mileinial NTB mau dibawa kemana. Anak-anak muda sekarang harus diberikan literasi yang implememtatif dan memberdayakan. Jika hal itu tidak dilakukan akan berdampak pada musibah demografi itu sendiri.

Untuk memajukan dunia pendidikan serta meningkatkan IPM daerah, kata dia dibutuhkan kinerja kolektif. bukan saja menjadi monopoli sebuah instiutisi yang akan menyeselaiakan

“Jangan hanya Upon to the gubernur atau Upon to the pendidikan tetapi harus semua stakehoplder bicara kondisi IPM ini,” sebut dia.

Disinggung pembangunan dibawah TGB hanya mementingkan satu golongan saja. Dia mengatakan hal itu tidak lebih menggunakan sudut pandang  post kolonial, dengan kaca mata post kolonial, kata dia jangan melihat secara dikotomis. Keberhasilan NTB merupakan keberhasilan bersama. Ketika TGB diklaim keberhasilannya untuk golongan tertentu, dia melihat hal itu merupakan sudut pandang yang keliru.

“Dalam hal ini kita butuh penilian melalui sebuah penelitan,” bebernya.

Terhadap hal itu, diirnya yakin pemimpin yang adil dan tidak berpihak hanya pada satu golongan saja akan abadi dikenang masyarakat. Tetapi sebaliknya ketika pemimpin tidak adil tentu akan terjawab oleh masayarat bahkan seorang pemimpin itu akan tenggelam.

“Nanti sejarah yang akan memberikan penilaian, kalau memang tidak adil sejarah akan menguburkan,” jelas Masnun.

 

Sebelumnya Gubernur NTB, M Zainul Majdi mengaku berbagai program yang tertuang dalam RPJMD bagiannya pada prioritas pendidikan. Gubernur menyebutkan tiga bagian program Pemprov yang sudah dilakukan yaitu menekankan angka kematian ibu menjadi nol (Akino), menekankan angka buta aksara menjadi nol (Absano) dan menekankan angka drop out atau putus sekolah hingga titik nol (Adono). Dua dari tiga program itu menunjukkan keberpihakkan pemerintah pada sektor pendidikan.

“Saya masih percaya orang yang alim, berilmu berpendidikan akan berada pada siklus sosial yang baik,” kata gubernur, belum lama ini.(cr-jho/r1)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here