Beranda Ekonomi Mahal Itu Hukum Pasar

Mahal Itu Hukum Pasar

BERBAGI
ILUSTRASI

MATARAM—Mahalnya harga cabai hingga tembus Rp 70 ribu per kilogram di Pasar Mandalika, tak bisa dikendalikan Dinas Perdagangan. “Itu hukum pasar. Karena pasokan dan stok di pasar berkurang, memicu kenaikan harga,” kata Kepala Dinas Perdagangan Kota Mataram, L Alwan Basri kepada wartawan, kemarin.

Menurutnya, kenaikan harga cabai ini bukan kasus local, melainkan nasional. Karenanya, perlu ada kebijakan secara nasional untuk menekan harga. Sebelumnya, pemerintah pusat telah bergerak dengan mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) guna menstabilkan harga beras. “Cabai juga perlu seperti itu,” ujarnya.

Ditanya letak masalah sehingga harga cabai meroket, Alwan mengaku tidak tahu. Perlu duduk bersama dengan Dinas Pertanian guna mengetahui akar masalahnya. Apa karena stok kurang, serta mengapa bisa kekurangan stok. “Kita akui, harga cabai sedang mahal. Tapi kasusnya bukan hanya di Mataram,” katanya.

“Harus semua duduk bersama. Dan kolaborasi harus kita perkuat. Sumber masalahnya harus dicari dari mana, apakah di petani atau lainnya,” sambungnya.

Dinas Perdagangan, menurut Alwan, hanya melakukan pemantauan. Dari pantauannya, mulai meningkat lagi harganya. “Di Pasar Mandalika sekarang harganya Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu per kilogram‎. Dulu Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu per kilogram. Kalau di pasar lain bisa lebih mahal,” jelasnya.

Saat pasar murah beberapa hari lalu, disediakan juga cabai. Namun, harganya tak bisa dijamin murah. “PPI jual juga dengan harga Rp 70 ribu per kilogram, karena mereka dapatnya dengan harga segitu. Sebelumnya jual Rp 40 ribu per kilogram, karena dapatnya lebih murah,” ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian Kota Mataram, H Mutawalli tak membantah masih mahalnya harga cabai di pasaran. “Ini karena stoknya menipsi, cabai-cabai dari Lombok Timur,” kata dia.

Ketiadaan stok dari Lotim juga dipicu beralihnya petani setempat menanam bawang putih dan bawang merah. Belum lagi kebiasaan petani di Lotim, mengirim cabai ke luar daerah di saat harganya sedang mahal.

Sementara hasil petani cabai di Mataram, nyaris habis setelah panen di bulan November-Desember tahun lalu. Kalaupun ada sisa panen, produksinya sangat sedikit. Di sisi lain, petani di Mataram belum mulai menanam. “Harusnya Januari mulai nanam, tapi kita telat karena hujan. Sedangkan cabai tidak boleh terendam,” ungkapnya.

Rencananya, penanaman bisa dimulai bulan Maret sambil menunggu kondisi cuaca stabil. Sebagai solusi cepat mengatasi kenaikan harga cabai ini, harapannya pemerintah provinsi bisa mengambil cabai dari luar daerah. Seperti dari Bima atau Pulau Sumbawa untuk didrop ke Pulau Lombok.(rin)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here